Krisis AS dan Dampaknya ke Industri TI

Sekilaf inpo – Krisis yang menerpa Amerika Serikat sudah pasti akan berpengaruh pada industri teknologi informasi. Seperti apa pengaruhnya? Mungkinkah ‘keruntuhan dot com episode dua’ akan terjadi?
 
Tahun 1999-2000 adalah tahun-tahun penuh ketidakpastian bagi industri teknologi. Pada saat itu adalah puncak kejayaan sekaligus awal keruntuhan kekuatan ekonomi baru yang disebut ‘dot com bubble’. 
 
Kejatuhan itu menyebabkan pengangguran dan bahkan gulung-tikar-nya beberapa perusahaan. Meski demikian, banyak perusahaan yang tetap bisa bertahan hidup sampai saat ini.

Krisis finansial yang kini melanda Amerika Serikat mau tidak mau membangkitkan lagi kenangan pada ‘keruntuhan dot com’ tersebut. Akibatnya muncul beberapa spekulasi bahwa dampak krisis itu akan menyebabkan ‘keruntuhan dot com episode dua’ atau bolehlah disebut ‘keruntuhan dot com 2.0’.


Jim Kerstetter dari Cnet, yang dikutip detikINET Senin (6/10/2008), dan dikopi TelogodogD mencoba menguraikan dampak krisis saat ini terhadap industri teknologi. Menurut Jim, krisis finansial ini lambat laun pasti akan berdampak pada industri teknologi informasi. Tapi seberapa jauh? 
 
Kekacauan Finansial
 
Faktor pertama yang akan menyumbang pada kekacauan di industri TI, tulis Jim, adalah kekacauan finansial. Ini mencakup anjloknya harga properti yang membuat jaminan berupa properti menjadi tidak bernilai, keruntuhan saham di bursa (terutama Wall Street), seretnya keran kredit dari institusi pemberi pinjaman hingga lemahnya aktivitas modal ventura.
 
Sebagai contoh, seretnya aliran dana kredit perbankan akan membuat perusahaan besar kesulitan mencari dana jika hendak melakukan ekspansi, termasuk ekspansi infrastruktur teknologi mereka. Sulitnya kredit juga akan menghambat perusahaan teknologi pemula (start-up). 
 
Contoh lainnya, aktivitas modal ventura periode ini menurun. Padahal modal ventura adalah salah satu ‘mesin penggerak’ utama ekonomi di industri TI. 
 
Jim mencatatkan hanya ada 56 transaksi modal ventura terkait teknologi dengan nilai total USD 4,7 miliar pada kuartal kedua 2008. Bandingkan dengan 97 transaksi dengan nilai USD 8,8 miliar di periode yang sama tahun 2007. 
 
Lebih lanjut, papar Jim, sudah bisa dipastikan belanja TI di industri keuangan akan sangat rendah. Teknologi akan memiliki prioritas rendah dalam anggaran perusahaan keuangan. 
 
Tak Ada Jalan Keluar
 
Banyak perusahaan teknologi pemula yang bisa bertahan –dan pendirinya tak menjadi bangkrut– dengan mengambil ‘jalan keluar’. Biasanya exit strategy ini mencakup merger, akuisisi (oleh perusahaan besar), penawaran saham ke bursa publik alias Initial Public Offerings (IPO) dan Leveraged Buyout. 
 
Akuisisi dan meger di industri teknologi, menurut Jim, hanya mencapai 691 transaksi senilai total USD 37 miliar pada kuartal ketiga 2008. Padahal pada 2007, periode yang sama mencatatkan 822 transaksi dengan nilai total USD 58 miliar. 
 
Artinya? Lebih sedikit perusahaan teknologi yang berminat melakukan merger dan akuisisi. Salah satu sebabnya konon adalah seretnya aliran dana kredit. 
 
Sedangkan IPO juga sedang lesu seiring kondisi lantai bursa yang tak stabil. Bahkan menurut Jim, sejak ‘keruntuhan dot com’ di 2000, pasar bursa cenderung emoh dengan IPO perusahaan teknologi. 
 
Leveraged Buyout (LBO) adalah pembelian perusahaan yang sedang ‘sekarat’ untuk kemudian diperbaiki dan dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Diperkirakan banyak perusahaan pemain LBO yang memilih untuk berhati-hati dalam kondisi finansial saat ini.
 
Kesimpulannya
 
Jim menuliskan, pada akhirnya, industri TI akan mengalami kelesuan. Perusahaan yang memiliki dana segar harus bertindak cerdas dan menjaga aset tersebut. Sedangkan mengandalkan dana dari kredit atau modal ventura akan seperti ‘merindukan hujan di padang pasir’. 

Meski demikian, industri TI terutama yang berbasis web diyakini tak akan mengalami keambrukan separah ‘keruntuhan dot com’ di 2000. Alasannya? Kekacauan tidak berasal dari dalam industri TI, tak banyak dana publik di industri TI saat ini dan kebanyakan perusahaan dot com 2.0 hati-hati dalam menggunakan uang mereka. 
 
Di sisi lain, resesi yang kemungkinan terjadi di AS dikhawatirkan akan menyebabkan banyak konsolidasi. Kelesuan pun diyakini tak bisa dihindari dan mungkin bisa berlangsung cukup lama. 

Sumber : detik



%d blogger menyukai ini: