Netbook Laptop Mini

Industri PC di 2008 melahirkan sebuah segmen bisnis yang menjanjikan, yakni netbook. Geliat bisnis produk ini tak sekecil bentuknya. Produsen PC berlomba meluncurkan produk baru, pasar pun tak berhenti menyerbu.

Netbook sekilas memang tampak seperti komputer jinjing pada umumnya, hanya bentuknya saja yang berukuran lebih kecil. Namun jangan kira, potensi bisnis netbook bernasib sama seperti ukurannya yang mini.

Laptop mini ini seperti dikutip dari detikinet.com memang sudah diperkenalkan di akhir 2007, tapi justru di tahun berikutnya menjadi momentum kebangkitan industri netbook. Terbukti, ketika pertama kali netbook menyapa pasar PC Indonesia awal 2008, konsumen sampai harus mengantre dan berdesak-desakan hanya untuk membelinya.

Hal ini merupakan fenomena yang luar biasa, dan banyak yang menilai baru pertama kali terjadi dimana konsumen harus rela mengantre panjang hanya untuk membeli PC.

Asus menjadi produsen PC pertama yang menikmati indahnya pesona netbook di awal-awal kemunculannya. Pantas saja hal itu terjadi, sebab belum banyak produsen PC yang melirik netbook sebagai sebuah potensi bisnis saat itu. Namun dengan bermodal nekat dan gebrakannya, Asus berhasil menyihir konsumen Indonesia.

Hasilnya, sekitar 300 unit barang dagangan Asus Eee PC laris manis bak kacang goreng. Sementara bagi konsumen yang sudah datang mengantre namun tak kebagian, harus antre booking (indeent).

Industri Tersadar

Kesuksesan Asus ini sontak menyulut asa bagi produsen PC lainnya. Selanjutnya bisa ditebak, mereka seakan berduyun-duyun ikut memproduksi laptop mini ini. Sebut saja Hewlett-Packard, Zyrex, Axioo, MSI, Dell, Lenovo, Toshiba hingga Acer mulai bergantian meluncurkan netbook.

Netbook pun terus berevolusi, saat pertama kali hadir hanya memiliki kapasitas penyimpanan terbatas tak sampai 20 GB, tapi kini gudang penyimpanan netbook sudah berhasil menyamai ‘kakaknya’ — notebook — dengan kapasitas hingga diatas 100 GB.

Namun netbook yang berkapasitas besar tersebut tak lagi menggunakan Solid-State Disk (SSD), tapi sudah beralih ke hardisk. Salah seorang bos produsen PC pernah mengatakan kepada detikINET bahwa kebijakan untuk mengganti SSD dengan hardisk lantaran harga SSD yang lebih mahal.

Soal harga, rata-rata netbook yang dijual di tanah air hampir semuanya sama. Berkisar di angka Rp 4 – Rp 6 jutaan, tergantung dari merek, spesifikasi di dalamnya serta kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Selain itu, penentuan sistem operasi yang dipakai di perangkat tersebut juga memegang peranan. Cukup banyak vendor PC yang menawarkan netbook dengan ditautkan OS Open Source. Alhasil, harga yang dibanderol lebih murah ketimbang netbook yang diikat dengan software proprietary.

Sumber : detikinet.com



%d blogger menyukai ini: