Bisnis ATM Foto

Makin beragam saja jenis mesin pencetak foto digital yang berbentuk ATM. PT Modern Foto pun menawarkan mesin terbarunya. Dihitung-hitung, dengan modal tak sampai Rp 50 juta bisnis ini bisa balik modal paling lama setahun.

Inovasi produk-produk berteknologi digital melaju amat pesat. Begitu dahsyat kemajuan itu hingga terjadi perubahan selera, pola konsumsi, dan mengubah peta bisnis dan industri. Produk-produk berteknologi lama langsung terasa usang, kuno, dan merepotkan bila versi digitalnya sudah lahir. Orang pun beralih ke produk digital, mau tak mau, industri pun harus menata diri mengikuti kebutuhan baru pasar itu Contohnya saja kamera. Kini memakai kamera lama dengan sistem manual terasa ribet dan mahal. Maklum, kamera analog masih menggunakan film yang cukup mahal. Cara pakainya pun lumayan ruwet, sementara hasil jepretan pun belum tentu bagus. Saat menjepret rasanya asyik-asyik saja, eh, begitu dicetak hasilnya bisa kabur atau malah hangus. Bikin keki saja.

Makanya, orang-orang cenderung beralih ke kamera digital. Selain tanpa film, pengoperasian kamera digital begitu sederhana. Anak kecil juga bisa. Hasil jepretan pun bisa diketahui seketika. Apalagi, harganya pun cenderung turun dengan munculnya kamera-kamera digital baru yang lebih canggih dan trendi.

Demam yang lebih hebat lagi terjadi pada industri ponsel. Kalau dulu, orang sudah cukup bangga menenteng ponsel mini yang hanya bisa bicara dan SMS. Kini, orang harus pakai ponsel yang ada kamera digitalnya.

Tren penggunaan kamera digital-baik itu tustel atau ponsel-otomatis membawa perubahan bagi industri cetak foto. Kini orang membutuhkan pencetak foto digital. Ya, pada satu tahapan era digital ini, sebuah foto belum banyak berarti kalau baru ada di dalam memory card, ponsel, flush disk, atau hardisk komputer. Orang masih ingin memandangi kegantengan atau kecantikan dirinya sendiri pada sebuah kertas, pada hasil cetak foto.

Nah, kebutuhan pencetak foto digital semakin meningkat seirama melonjaknya penjualan kamera digital. Mengutip data GFK-lembaga survei independen internasional untuk fotografi digital-tahun ini jumlah permintaan kamera digital akan meningkat 70%. Dengan kenaikan sebesar ini, diperkirakan ang-ka penjualan kamera digital hingga akhir 2005 mencapai 300.000 unit.

Makanya, selain memproduksi kamera digital, beberapa produsen juga mengeluarkan mesin pencetak foto. Menurut Henri Honoris, Direktur Sales dan Marketing PT Modern Photo, distributor Fuji Film di Indonesia, margin dari pen-jualan kamera relatif tipis. Untuk mendongkrak laba, mereka juga berbisnis cetak foto digital. “Seperti toko ponsel yang mengandalkan pemasukan lewat jualan voucher, begitulah kami mengandalkan bisnis cetak foto,” katanya.

Belakangan para produsen itu tak cuma membikin laboratorium cetak digital yang investasinya lumayan gede. Mereka mulai memasarkan mesin pencetak foto mini yang bentuknya mirip mesin penarik duit ATM. Itu pula sebabnya perangkat ini kerap dinamai ATM foto.

Gampangnya, di mesin ATM foto ada monitor. Lalu, di situ juga ada slot atau lubang-lubang untuk membaca segala macam alat pe-nyimpan foto digital. Bisa CD, disket floppy yang kuno itu, dan tentu saja segala jenis memory card. Kalau mau cetak dari komputer laptop, PDA, atau ponsel juga bisa, karena mesin ini mempunyai fasilitas inframerah dan juga bluetooth. Tentu saja peranti yang Anda bawa harus punya fitur inframerah atau bluetooth pula.

Margin kotor bisa dapat 75%

Pionir ATM foto adalah Kodak yang kini memasuki generasi ketiga. Sudah cukup banyak pengusaha yang menggunakan ATM foto Kodak sebagai periuk nasinya. Kalau berminat, Anda bisa memperolehnya dengan modal Rp 135 juta (KONTAN, 21 Juni 2004).

Bagi yang mau berbisnis ATM foto dengan modal lebih kecil, coba saja M Print Station Plus (MPS+) hasil besutan PT Modern Foto. “Investasi awalnya sekitar Rp 50 juta seunit,” terang Henri. Mesin MPS+ bisa mencetak foto hanya dalam waktu 20 detik. Kecepatan ini bisa meningkat asal ditambah printer.

Dengan warnanya yang merah menyala, MPS+ sangat cocok mengincar kaum ABG sebagai target pasarnya. Mesin dengan layar sentuh ini begitu mudah dioperasikan tanpa bantuan operator. MPS + mampu mencetak berbagai ukuran mulai dari 2S (1R) seharga Rp 2.000, 3S (2R) Rp 3.000, hingga 4R Rp 5.000. Kualitas cetaknya sama seperti Fuji Digital Image, laboratorium foto digital milik Modern Foto.

Ah, tapi apakah masih ada peluang di tengah maraknya produk sejenis dan laboratorium foto digital? “Masih ada,” kata Henri hakulyakin.

Kuncinya: ambil lokasi yang tepat. “Sebaiknya kita cari tempat yang belum ada saingannya,” saran Hendra Gunawan, salah satu pemilik MPS+ yang juga memiliki ATM Kodak. Ia menambahkan, kalau tak ada saingan, jangankan buka di mal, buka di ruko pun ia berani melakoni. Salah satu gerai MPS+ miliknya yang laris-manis ada di Pasaraya Manggarai. “Wah, yang mencetak di MPS+ sampai antre, nih,” ujar Tahyuni, kepala Hawaii Foto, gerai milik Hendra Gunawan.

Tak usah puyeng sendiri me-mikirkan bagaimana lokasi yang pas itu, sebab Modern Foto siap membantu pelaksanaan survei lokasi. Biaya sewa ruangnya tentu tak mahal, karena ruang yang dibutuhkan tak luas. Bahkan, kalau Anda sudah punya usaha semacam fotokopi, apotek, warnet, atau studio foto tak perlu repot-repot menambah ruang usaha untuk ATM foto ini.

Modern Foto juga memberikan layanan purnajual dan garansi setahun bagi pembeli ATM fotonya. “Ini bisnis bagus, paling tidak setahun sudah balik modal,” ucap Henri berpromosi. Pasalnya, pasarnya bakal terus bertumbuh seiring terus membesarnya angka pengguna kamera dan ponsel berkamera digital. Dan, enaknya, margin MPS+ bisa mencapai 75%. Sebab, biaya produknya hanya sekitar 25%.

Ke depan, bisnis ini agaknya menjadi favorit para pengusaha kecil yang tangguh. Pilihan mesin pencetak foto bakal makin bertambah dengan masuknya Konica pada akhir tahun ini. Konon, mereka bakal menjual produk ATM foto seharga US$ 5.000 seunit.

Sumber : forum.kafegaul.com



%d blogger menyukai ini: